Kisah Bob Tanpa Tangan
June 4th, 2007 by jimmysyafrizalTahun 1986 di New York diadakan lomba marathon internasional
yang diikuti oleh ribuan pelari dari seluruh dunia.
Lomba ini mengambil jarak 42 kilometer mengelilingi kota New York.
Jutaan orang dari seluruh dunia ikut menonton acara tersebut melalui
puluhan
televisi yang merelainya secara langsung.
Ada satu orang yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu
Bob Willen. Bob adalah seorang veteran perang Amerika, dan dia
kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang di
Vietnam. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk
melemparkan badannya ke depan.
Dan lomba pun dimulailah. Ribuan orang mulai berlari secepat mungkin
ke garis finish. Wajah-wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat.
Para penonton tak henti-hentinya bertepuk tangan untuk terus
mendukung para pelari tersebut.
5 kilometer telah berlalu. Beberapa peserta nampak mulai kelelahan
dan mulai berjalan kaki. 10 kilometer telah berlalu. Di sini mulai
nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang
hanya sekedar ikut untuk iseng-2. Beberapa peserta yang nampak
kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia.
Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5
hingga ke-10, Bob Willen yang berada di urutan paling belakang baru
saja menyelesaikan kilometernya yang pertama.
Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah
koyak,
menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan
melempar-lemparkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya. Ayah Bob
yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya
berseru “Ayo Bob… Ayo Bob… berlarilah terus”.
Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10
kilometer selama satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam
sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.
Akhirnya empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi
Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh.
Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish,
Bob jatuh terguling. Fisik Bob benar-2 telah habis saat itu. Bob
perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak disana
tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak
memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan
karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung
dan pernafasannya.
Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah-tengah gemuruh suara
penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara
ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit! Selesaikan apa yang telah
kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan,
garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Tunjukkan ke semua
orang siapa dirimu, jangan menyerah! Cepat bangkit!!!”
Pelan-pelan Bob mulai membuka matanya kembali. Saat itulah matanya
melihat garis finish yang sudah dekat. Semangat mulai membara
kembali di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat-
lompat ke depan.
“Ya, ayo Bob… satu lompatan lagi, Bob… Capailah apa yang kamu
inginkan, Bob!” teriak ayahnya yang terus berlari mendampinginya.
Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis
finish.
Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat
itu.
Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan
tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat
yang berhasil menyelesaikan lari marathon.
Beberapa saat kemudian, ketika ada puluhan wartawan yang menemuinya,
Bob berkata,
“SAYA BUKAN ORANG HEBAT. ANDA TAHU SAYA TIDAK PUNYA KAKI LAGI.
SAYA HANYA MENYELESAIKAN APA YANG TELAH SAYA MULAI.
SAYA HANYA MENCAPAI APA YANG TELAH SAYA INGINKAN.
DAN KEBAHAGIAAN SAYA DAPATKAN BUKAN DARI APA YANG SAYA DAPATKAN,
TAPI DARI PROSES UNTUK MENDAPATKANNYA. SELAMA LOMBA,
FISIK SAYA MENURUN DRASTIS. TANGAN SAYA SUDAH HANCUR BERDARAH-DARAH.
TAPI RASA SAKIT DI HATI SAYA TERJADI BUKAN KARENA LUKA ITU,
TAPI KETIKA SAYA MEMALINGKAN WAJAH SAYA DARI GARIS FINISH.
JADI SAYA KEMBALI FOKUS UNTUK MENATAP GOAL SAYA.
SAYA RASA TIDAK ADA ORANG YANG AKAN GAGAL DALAM LARI MARATHON INI.
TIDAK MASALAH ANDA AKAN MENCAPAINYA DALAM BERAPA LAMA,
ASAL ANDA TERUS BERLARI. ANDA DISEBUT GAGAL BILA ANDA BERHENTI.
JADI, JANGANLAH BERHENTI SEBELUM TUJUAN ANDA TELAH TERCAPAI.”
*
Diadaptasi dari Tayangan Guiness Book of World Records - TV7
-> dari milis air putih